Selasa, 29 Maret 2016

Beberapa Tanya Jawab Penting dalam Islam

Tanya jawab penting tentang IslamDi antara metode atau uslub dalam pendidikan adalah dengan cara tanya jawab. Metode semacam ini banyak terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an dan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai salah satu contoh adalah apa yang terdapat dalam sebuah hadits shahih yang cukup terkenal, yaitu hadits Jibril yang datang berupa seorang laki-laki dan bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Islam, iman dan ihsan. Di akhir hadits tersebut Rasulullah mengatakan, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah orang yang bertanya itu?” Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Ia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajari kalian tentang agama kalian.”
Berikut ini adalah beberapa permasalahan dalam Islam yang cukup penting untuk diketahui oleh seorang muslim dalam bentuk tanya jawab untuk mempermudah dalam memahami dan mengingatnya.*

1. Apakah syarat diterimanya amal shaleh?

Syarat diterimanya amal shaleh:
a. Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mentauhidkan-Nya. Amalan orang yang berbuat syirik tidak akan diterima.
b. Ikhlas, yakni bahwa amalan shaleh tersebut dilakukan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah.
c. Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam amalan itu, dengan cara mengerjakan sesuai dengan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Sehingga Allah tidak diibadahi kecuali dengan apa yang diajarkan oleh beliau.
Jika salah satu dari syarat-syarat itu tidak terpenuhi, maka amalan akan tertolak/tidak diterima. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS al-Furqan: 23)

2. Apakah arti iman itu dan ada berapa rukunnya?

Iman artinya, keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS al-Fath: 4)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluhan cabang. Cabang yang tertinggi adalah ucapan “Laa ilaaha illallah” (tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah) dan yang paling rendah adalah menjauhkan gangguan dari jalan. Rasa malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (H.R Muslim)
Ini diperkuat oleh apa yang dirasakan seorang muslim dalam dirinya berupa sikap semangat dalam ketaatan tatkala berada pada musim-musim kebaikan, dan rasa malas pada musim-musim tersebut ketika melakukan kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.”(QS Hud: 114)

3. Apa makna Laa ilaaha illallah?

Maknanya yaitu meniadakan hak ibadah bagi selain Allah, dan menetapkannya hanya untuk Allah yang Maha Esa semata.

4. Apakah Allah bersama kita?

Ya benar, Allah bersama kita dengan pengetahuan, pendengaran, penglihatan, penjagaan, peliputan, kekuasaan dan kehendak-Nya. Adapun Dzat-Nya tidak bercampur dengan dzat makhluk dan tidak ada satu makhluk pun yang bisa meliputi-Nya.

5. Apakah Allah bisa dilihat dengan mata?

Kaum muslimin sepakat bahwa Allah tidak bisa dilihat di dunia. Akan tetapi orang-orang yang beriman akan melihat-Nya di padang mahsyar dan di surga. Allah berfirman: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat.”(QS al-Qiyamah: 22-23)

6. Apakah kegunaan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah?

Sesungguhnya kewajiban pertama yang diwajibkan Allah kepada makhluk-Nya adalah mengenal Allah. Apabila manusia mengenal Allah, maka mereka akan beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benar ibadah, Allah berfirman: “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.” (QS Muhammad: 19)
Dengan mengingat luasnya rahmat Allah menjadikan penuh harap (الرجاء), mengingat pedihnya siksa dan murka Allah menimbulkan ketakutan yang sangat (الخوف), dan dengan mengingat keesaan Allah dalam menganugerahkan nikmat mengharuskan rasa syukurkepada-Nya. Maksud dari beribadah kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya adalah mewujudkan pengetahuan tentang nama dan sifat Allah tersebut, memahami arti yang terkandung di dalamnya, serta mengamalkannya. Di antara nama dan sifat-Nya terdapat sifat yang apabila dimiliki oleh seorang hamba maka ia dipuji, seperti ilmu, kasih sayang, dan adil. Di antara sifat dan nama-Nya apabila dimiliki oleh seorang hamba maka ia dicela, seperti sifat ketuhanan, absolut, dan sombong. Sementara ada beberapa sifat bagi hamba yang dipuji karenanya, dan diperintahkan untuk memilikinya, tetapi tidak boleh sifat tersebut ada pada Allah, seperti sifat kehambaan, membutuhkan, berhajat, menghinakan diri, memohon dan semisalnya. Sesungguhnya makhluk yang paling dicintai Allah adalah yang memiliki sifat yang dicintai-Nya, dan yang paling dibenci Allah adalah orang yang memiliki sifat yang dibenci-Nya.

7. Apa rincian Asmaul Husna?

Allah berfirman: “Allah memiliki nama-nama yang baik, maka serulah Dia dengan nama-nama itu.” (QS al-A’raf: 180). Dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:“Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Siapa yang menghitungnya maka akan masuk surga.” (Muttafaq ‘alaihi )
Adapun pengertian ihsha (menghitung) adalah : 1) Menghitung lafadz dan jumlahnya 2) Memahami makna yang tersirat dan  terkandung di dalamnya serta mengimaninya. Apabila ia mengatakan الحكيم Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana), berarti dia menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah, karena seluruhnya itu sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Apabila dia berkata القدّوس Al-Quddus (Yang Maha Suci), maka dia merasakan bahwa Allah itu suci dan bersih dari segala kekurangan. 3) Berdo’a kepada Allah dengan nama-nama-Nya.
Doa ada dua: a) Doa pujian dan ibadah. b) Doa permohonan dan masalah.

8. Apakah perbedaan antara nama Allah dan sifat-Nya?

Nama Allah dan sifat-sifat-Nya dapat dipakai untuk minta perlindungan dan bersumpah. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan, di antaranya yang terpenting adalah:
Pertama: Dibolehkan memberikan nama Abd (hamba) di depan nama-nama Allah, dan berdo’a dengan-Nya. Adapun dengan sifat-sifat-Nya tidak boleh. Contoh pemberian nama dengan abd, seperti عبدالكريم Abdul Karim (hamba Yang Maha Mulia), namun pemberian nama عبدالكرم Abdul Karam (hamba kemuliaan) tidak boleh. Begitu pula berdo’a dengan memanggil salah satu nama Allah ياكريم ya Karim (wahai Yang Maha Mulia), akan tetapi tidak boleh berdo’a dengan menyebutياكرم الله ya karamallah (wahai kemulian Allah).
Kedua: Dari nama-nama Allah diambil sifat-sifat-Nya, seperti nama الرحمن Al-Rahman, dapat diambil dari nama tersebut sifat الرحمة rahmah. Adapun sifat-sifat Allah, tidak bisa diambil darinya nama-nama bagi Allah, seperti sifat الاستواء istiwa’ tidak dapat diambil darinya nama Allah المستوي Al-Mustawy (Yang beristiwa’).
Ketiga: Perbuatan Allah tidak bisa diambil darinya nama yang tidak ada dalam nama-nama Allah. Di antara perbuatan Allah adalah الغضب al-Ghadhab (marah), tidak bisa diambil darinya nama untuk Allah seperti الغاضب Al-Ghaadhib. Adapun sifat-sifat-Nya dapat diambil dari perbuatan-Nya. Oleh karena itu sifat marah, kita tetapkan bagi Allah karena marah itu adalah salah satu perbuatan Allah.

9. Cukupkah kita berpedoman dengan al-Quran saja tanpa sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Tidak cukup, karena Allah memerintahkan untuk berpegang kepada sunnah dalam firman-Nya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Q.S Al-Hasyr: 7)
As-Sunnah berfungsi sebagai penafsir Al-Qur’an. Rincian syari’at agama, seperti shalat, tidak dapat diketahui tanpa sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya aku diberi kitab (al Quran) dan semisalnya bersamanya, ketahuilah akan ada seorang yang kenyang (duduk) di atas kursinya lalu berkata: berpeganglah kalian pada Al Quran ini, hal-hal yang halal yang kalian temui di dalamnya maka halalkanlah, dan hal-hal yang haram yang kalian temui di dalamnya, maka haramkanlah.” (H.R Abu Daud)

10. Apakah arti beriman kepada para rasul?

Yaitu pembenaran yang pasti, bahwa Allah telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat dari golongan mereka, mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah semata, dan mengingkari sesuatu yang diibadahi selain-Nya, dan para rasul itu semuanya jujur, dipercaya, pintar, mulia, berbakti, bertakwa, terpercaya, pemberi petunjuk, dan diberi petunjuk, mereka menyampaikan risalah/misi, makhluk yang paling baik, dan suci dari mempersekutukan Allah sejak lahir sampai meninggal dunia.

11. Apakah macam-macam syafaat pada hari kiamat?

Ada berbagai macam syafaat, yang terbesar adalahsyafa’at uzhma (syafa’at terbesar). Yang terjadi pada saat manusia dikumpulkan pada hari kiamat, setelah lima puluh ribu tahun manusia berdiri menunggu keputuskan urusan mereka, lantas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan syafa’at di sisi Rabbnya dan memohon kepada-Nya untuk memutuskan urusan mereka. Syafa’at ini hanya dimiliki oleh pemimpin kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan merupakan kedudukan terpuji yang dijanjikan untuk beliau.
Kedua: Syafa’at untuk meminta dibukanya pintu surga. Orang yang pertama kali minta dibukakan pintu surga adalah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat yang pertama kali masuk surga adalah umat beliau.
Ketiga: Syafa’at untuk sekelompok kaum yang telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam api neraka, agar tidak jadi memasukinya.
Keempat: Syafa’at untuk pelaku maksiat dari kalangan ahli tauhid yang telah masuk neraka, agar dikeluarkan darinya.
Kelima: Syafa’at untuk meninggikan derajat sekelompok penghuni surga.
Ketiga macam syafa’at terakhir ini (syafa’at ketiga, keempat dan kelima) tidak dikhususkan untuk nabi kita, tapi beliau adalah yang diberi kesempatan terlebih dahulu. Setelah beliau, yang memberikan syafaat adalah para nabi, malaikat, orang-orang sholeh, dan para syuhada’ (orang yang mati syahid).
Keenam: Syafa’at untuk sekelompok manusia agar masuk surga tanpa hisab.
Ketujuh: Syafaat untuk mendapatkan keringanan azab bagi sebagian orang kafir. Syafa’at ini adalah khusus bagi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk paman beliau Abu Thalib, agar azabnya diringankan.
Kemudian Allah dengan rahmat-Nya mengeluarkan sekelompok orang yang meninggal dunia dalam keadaan bertauhid dari api neraka, tanpa syafa’at dari siapapun. Jumlah mereka tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah, lalu dimasukkan ke dalam surga dengan rahmat-Nya.

12. Bolehkah minta tolong, atau minta syafa’at dari orang yang masih hidup?

Boleh, syari’at Islam menganjurkan untuk memberikan pertolongan kepada sesama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa.” (Al-Maidah: 2) Rasulullah bersabda: “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selagi ia menolong saudaranya.”(H.R.Muslim)
Adapun syafa’at, maka keutamaannya besar sekali, syafaat disini berarti perantaraan, Allah berfirman: “Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik,niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) daripadanya.” (An-Nisaa:85) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berilah syafa’at (jadilah sebagai perantara yang menolong), niscaya kalian akan diberi pahala.” (HR Bukhari)
Semua hal di atas harus sesuai dengan beberapa syarat:
Pertama: Syafa’at itu berasal dari orang yang masih hidup. Adapun memohon syafa’at dari orang yang sudah meninggal dinamakan do’a. Padahal si mayit tidak dapat mendengar permohonannya. Allah berfirman: “Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada menmendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.” (Fathir:14) Maka bagaimana mayit sampai di seru, padahal ia sendiri butuh doa orang yang masih hidup. Amalannya telah terputus dengan kematiannya kecuali apa yang dapat sampai kepadanya berupa pahala doa dan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Bila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak soleh yang mendoakan.” (H.R Muslim)
Kedua: Mengerti apa yang diutarakan kepadanya.
Ketiga: Orang yang dimintai syafa’at hadir di hadapan yang meminta.
Keempat: Syafaat itu harus dalam hal yang mampu dilakukan.
Kelima: Dalam urusan duniawi.
Keenam: Pada perkara yang dibolehkan dan tidak mengandung kemudharatan.

13. Ada berapa jenis tawasul?

Tawasul ada dua bagian:
Pertama: Tawasul yang dibolehkan; tawasul ini ada tiga macam:
1) Tawasul kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
2) Tawasul kepada Allah dengan sebagian amal sholeh (yang dikerjakan oleh si pemohon), seperti kisah tiga orang yang terkurung di dalam gua.
3) Tawasul kepada Allah, dengan do’a seorang muslim yang shaleh yang masih hidup, yang hadir (berada di hadapannya) yang diharapkan do’anya akan dikabulkan.
Kedua: Tawasul yang haram (dilarang), tawasul ini ada dua macam:
1) Berdo’a kepada Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jah (kedudukan) Nabi atau wali. Seperti ungkapan: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bertawasul dengan jah (kedudukan) nabi-Mu”, atau dengan jah Husain misalnya. Memang benar, bahwa jah (kedudukan) Nabi agung sekali di sisi Allah, begitu juga jah (kedudukan) orang-orang shaleh. Akan tetapi para sahabat yang mereka adalah orang yang paling antusias kepada kebajikan, tatkala terjadi paceklik, mereka tidak bertawasul dengan jah(kedudukan) Nabi padahal makam beliau ada di tengah-tengah mereka. Mereka hanya bertawasul dengan do’a paman beliau yang pada waktu itu masih hidup, yaitu Abbas radhiallahu ‘anhu.
2) Meminta kepada Allah untuk dikabulkan hajatnya seraya bersumpah dengan nama nabi-Nya atau wali-Nya, seperti ungkapan: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada-Mu (untuk dipenuhi) ini dan itu, demi wali-Mu si fulan, atau demi hak nabi-Mu.” Bersumpah dengan nama makhluk terhadap makhluk saja hukumnya dilarang, apalagi terhadap Allah, hal itu lebih dilarang lagi. Seorang hamba tidak memiliki hak apapun terhadap Allah karena semata-mata mentaati-Nya.

14. Apa fitnah yang paling besar yang dialami manusia?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada perkara yang lebih besar antara penciptaan Adam sampai hari kiamat melebihi (fitnah) Dajjal.” (HR Muslim)
Dajjal adalah seorang laki-laki dari keturunan Adam, keluar pada akhir zaman, di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” (ka–fa–ra) yang bisa dibaca oleh setiap orang yang beriman. Mata kanannya buta, dan biji matanya bagaikan buah anggur yang mengapung. Saat pertama kali keluar dia mengaku sebagai orang shaleh, lalu mengaku sebagai nabi, kemudian mengaku sebagai tuhan. Ia mendatangi suatu kaum dan mengajak mereka pada ajarannya, namun mereka mendustakan dan menolak perkataannya. Lalu dia meninggalkan mereka, lantas harta-harta mereka mengikuti Dajjal, sehingga mereka tidak memiliki apa-apa. Kemudian dia mendatangi kaum lain, lalu ia mengajak mereka kepada ajarannya, lantas mereka menerima dan percaya kepadanya. Dia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka turunlah hujan, dan memerintah bumi untuk menumbuhkan, maka tumbuhlah tanaman. Dia mendatangi manusia dengan membawa air dan api. Api yang dibawanya adalah air yang dingin, dan air yang dibawanya adalah api. Sudah sepantasnya setiap orang yang beriman untuk berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal ini pada setiap penghujung shalat, membaca beberapa ayat dari awal Surat al-Kahfi jika bertemu dengannya, dan berusaha menjauhi pertemuan dengannya karena dikhawatirkan terpedaya olehnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja mendengar tentang Dajjal, maka menjauhlah darinya. Demi Allah, sesungguhnya seseorang mendatanginya dan mengira bahwa dia adalah orang yang beriman, lantas dia mengikutinya disebabkan oleh syubhat yang dibawanya.”(HR Abu Daud)
Dajjal berada di muka bumi selama empat puluh hari, di antaranya ada sehari bagaikan setahun, ada sehari bagaikan sebulan, dan ada sehari bagaikan seminggu, dan sisa hari-harinya seperti hari-hari kita ini. Dia tidak akan meninggalkan suatu negeri atau permukaan bumi, kecuali dimasukinya, kecuali Mekkah dan Madinah. Kemudian Nabi Isa ‘alaihi salam turun, lantas membunuhnya.

15. Apakah surga dan neraka itu ada?

Ya benar. Allah telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan manusia, keduanya adalah kekal selamanya dan tidak akan musnah. Allah telah menciptakan penghuni bagi surga karena karunia-Nya, dan penduduk bagi neraka dengan keadilan-Nya. Setiap hamba dimudahkan kepada tujuan penciptaannya.

16. Apa arti beriman kepada takdir?

Artinya pembenaran yang pasti bahwa setiap kebaikan dan keburukan terjadi karena takdir dan qadha Allah dan sesungguhnya Allah berbuat apa yang dikendaki-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Seandainya Allah menyiksa penduduk langit dan bumi, maka adzab-Nya itu bukanlah kezhaliman terhadap mereka, begitu pula seandainya Allah memberikan rahmat-Nya kepada mereka, maka rahmat-Nya itu lebih baik dari amal kebajikan mereka sendiri. Seandainya engkau menafkahkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, maka Allah tidak akan menerimanya sampai engkau beriman kepada taqdir, dan engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan apa yang terluput darimu, tidak mungkin akan menimpamu. Kalau engkau meninggal dunia di atas selain keyakinan ini, niscaya engkau masuk neraka.” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud)
Keimanan kepada qadar mencakup empat perkara:
1) Percaya bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik secara global maupun rinci.
2) Percaya bahwasanya Allah telah menulis hal tersebut di dalam al-Lauh al-mahfuzh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah telah menulis takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” (HR Muslim)
3) Percaya kepada kehendak Allah yang berlaku yang tidak bisa ditolak oleh apapun juga, dan kekuasaan-Nya yang tidak bisa dikalahkan oleh apapun juga. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendak-Nya tidak akan terjadi.
4) Percaya bahwa Allah-lah Sang Maha Pencipta, yang menciptakan segala sesuatu, adapun selain Allah adalah makhluk ciptaan-Nya.

17. Apakah setiap makhluk punya kemampuan, kehendak dan keinginan yang hakiki?

Ya, setiap manusia punya kehendak, keinginan dan pilihan. Akan tetapi hal itu tidak keluar dari kehendak Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.” (QS al-Insan: 30)
Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Berbuatlah kalian semua, setiap orang dimudahkan kepada tujuan penciptaannya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Allah memberi kita akal pikiran, pendengaran dan penglihatan; untuk membedakan antara yang baik dan buruk. Apakah ada orang yang berakal mencuri, lalu berkata, “Allah telah menetapkan hal itu padaku.” Kalau dia berkata demikian, masyarakat tidak akan memaafkannya, bahkan akan dihukum, lalu dikatakan kepadanya bahwa Allah juga telah mentakdirkan terhadap dirimu hukuman itu. Berargumen dan berdalih dengan takdir tidak dibenarkan, bahkan hal tersebut merupakan pendustaan.
Allah berfirman: “Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.’ Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul).” (QS al-An’aam: 148)

18. Siapa yang dinamakan wali itu?

Wali itu adalah orang mukmin yang shaleh yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS Yunus: 62-63)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Waliku hanyalah Allah dan orang shaleh dari kaum mukminin.” (Muttafaqun ‘alaihi)

19. Apa kewajiban kita terhadap sahabat nabi?

Kewajiban kita adalah mencintai mereka, berdo’a untuk mereka supaya mendapat ridha Allah, selamatnya hati dan lidah kita dari pencelaan terhadap mereka, menyebarkan keutamaan mereka, dan tidak memaparkan kejelekan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Para shahabat tidak ma’sum(terpelihara) dari kesalahan, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berijtihad. Bagi yang benar dari mereka dalam berijtihad mendapat dua pahala, tapi kalau salah mendapat satu pahala, dan kesalahannya terampuni. Mereka memiliki berbagai keutamaan, yang dapat menghilangkan kesalahan yang terjadi pada mereka jika hal itu memang ada. Mereka berbeda tingkatan. Yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurahman bin ‘Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhum. Kemudian Kaum Muhajirin pada umumnya. Setelah itu adalah mereka yang turut serta dalam perang badar baik dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Kemudian kaum Anshar. Lalu para sahabat yang lain.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku, demi Allah yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, seandainya seseorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, hal tersebut tidak akan mencapai segenggam keutamaan salah seorang dari mereka, ataupun separuhnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang mencela sahabatku, maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.” (HR Thabrani)

20. Bolehkah kita berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah melebihi kedudukan yang telah diberikan Allah kepada beliau?

Tidak diragukan lagi, bahwa nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk Allah yang paling mulia dan paling utama, namun kita tidak boleh berlebihan memujinya sebagaimana orang Nasrani berlebihan dalam menyanjung Isa ibnu Maryam ‘alaihi salam karena Rasulullah melarang kita untuk melakukan hal tersebut dalam sabdanya: “Janganlah kalian mengithra’-ku sebagaimana kaum Nasrani meng-ithra’ anak Maryam, aku ini hanyalah seorang hamba-Nya, maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya.” (HR Bukhari)
Ithra’ adalah tindakan melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam memuji.

21. Apakah ahli kitab itu beriman?

Orang Yahudi dan Nasrani serta pengikut agama lain adalah orang-orang kafir, meskipun mereka mengikuti agama yang pada asalnya benar. Jadi siapa saja yang tidak meninggalkan agamanya setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dan tidak masuk Islam, maka sebagaimana firman Allah: “Maka tidak akan pernah diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Ali Imran: 85)
Apabila seorang muslim tidak meyakini kekafiran mereka, atau ragu akan kebatilan agama mereka, maka kafirlah dia; karena mengingkari keputusan Allah dan nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengafirkan mereka. Allah berfirman: “Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya.” (QS Hud: 17)
Maksud dari sekutu-sekutunya adalah pemeluk agama-agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, tidak seorang pun dari umat ini, baik dia Yahudi atau Nasrani, mendengar tentang aku, kemudian dia tidak beriman kepadaku, kecuali dia masuk neraka.”(HR Muslim)

22. Bolehkah menzhalimi orang kafir?

Berbuat adil adalah wajib. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (Q.S An-Nahl : 90) Berbuat zhalim (aniaya) adalah haram, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan zhalim terhadap diri-Ku, dan Aku telah menjadikannya haram di di antara kalian, maka janganlah saling menzhalimi.” (HR Muslim)
Orang yang dizhalimi akan mengambil haknya dari orang yang menzhaliminya pada hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian siapakah orang yang merugi itu? Para sahabat menjawab, ‘Dia adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun harta benda.’ Maka Nabi menjawab, ‘Orang yang merugi dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Tapi ia mencela si fulan, menuduh si fulan, memakan harta si fulan, dan memukul si fulan yang lain. Maka sebagian dari pahalanya di berikan pada si fulan dan si fulan. Apabila kebaikannya telah habis sebelum lunas tanggungan dosanya, maka dosa-dosa mereka yang dizhalimi diberikan padanya lantas ia dicampakkan ke dalam api neraka.'” (HR Muslim)
Qishas bahkan akan dilakukan terhadap hewan.

23. Apakah bid’ah itu?

Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Arti bid’ah itu adalah apa yang baru dibuat, yang tidak ada dasar yang melandasinya dalam syariat. Adapun yang mempunyai dasar yang melandasinya dari ajaran agama, secara terminologi itu tidak termasuk bid’ah, walaupun secara etimologi (bahasa) dikatakan bid’ah.

24. Adakah dalam agama bid’ah yang baik dan yang buruk?

Bid’ah yang dicela oleh ayat dan hadits adalah bid’ah secara terminologi, yaitu perbuatan yang baru yang tidak ada dasarnya di dalam syari’at. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada dasarnya dari agama kita maka ia tertolak.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka sesungguhnya setiap yang baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR Abu Dawud)
Imam Malik mendefinisikan bid’ah secara terminologi: “Siapa melakukan hal baru dalam islam (bid’ah) yang ia anggap sebagai sesuatu yang baik, sesungguhnya dia telah menuduh Nabi Muhammad mengkhianati risalah (tugas kerasulan); karena Allah telah berfirman:  “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku.” (QS al-Maidah: 3)
Terdapat beberapa hadits yang memuji bid’ah dengan pengertian secara etimologi (bahasa), yaitu perbuatan yang disyari’atkan, namun dilalaikan, maka Rasulullah mendorong untuk mengingatkannya kepada orang lain, sebagaimana sabda beliau: “Siapa melakukan suatu tradisi yang baik dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang melakukan setelahnya dan pahala mereka tidak berkurang sedikitpun.” (HR Muslim)
Senada dengan arti hadits ini perkataan Umar radhiallahu ‘anhu yang berbunyi: “Ini sebaik-baik bid’ah.” Yang beliau maksudkan yaitu shalat tarawih. Shalat tarawih telah disyari’atkan dan dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau melakukannya selama tiga malam, lalu beliau tidak melakukannya lagi karena khawatir menjadi wajib, lantas Umar melaksanakannya, dan mengumpulkan orang untuk melakukannya.
***
Dicuplik dari Tafsir Sepersepuluh dari al-Qur’an al-Karim Berikut Hukum-hukum Penting Bagi Muslim,http://www.tafseer.info.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar